Kalau saya bisa, saya ingin merekam seluruh senyuman.
Entahlah, saya rasa setiap hari garis bibirnya berbeda,
begitu juga dengan kerutan halus di sepanjang garis mata.
.
Akhir Desember 2012, pertama kali saya dengar namanya. Hanya
nama panggilan yg saya tau dan mulai ingat sepanjang waktu. Tahun baru 2013,
saya fikir saya bisa bertemu dia untuk pertama kali. Malam itu saya membawa
kamera dan tas, lengkap. Saya rasa jika saya bertemu dia saat itu juga, saya
bisa langsung dapat berkeluh kesah atau minimal membuka percakapan dengan apa
yg saya bawa. Menunjukan apa yg saya “baru” saja bisa atau yg saya ingin tau.
Tapi dia tidak ada.
Beberapa hari kemudian dia lewat di hadapan kami. Kemeja
lusuh dengan lengan digulung sampai siku, sepatu yg talinya terikat kencang
tapi kakinya tidak dia masukan penuh, membuat tumit yg tertutup kaus kaki
terlihat kotor, serta kamera 35mm (semoga ini tidak salah) tergantung bebas di leher.
Seorang teman memanggil dia, meminta untuk mengambil
beberapa gambar kami di depan pintu keluar kantor.
Senyumnya. Saya tidak akan pernah lupa. “Oke, ya tahan. Oke
semuanya senyum. Satu, dua.. tiga.”
Kamera segera turun menunjukan senyum cemerlangnya. Barusan dia
bilang bahwa kami tidak akan langsung melihat hasilnya. Mungkin butuh 1 atau 2
bulan untuk dia kirim ke Jogja terlebih dahulu, dicuci disana. Kira-kira begitu
yg dia sampaikan.
Dan untuk pertama kalinya, MUNGKIN, dia tau nama saya. Itu pun
saya yakin tidak ada yg dia fikirkan sama sekali.
Dia lantas pergi. Pulang.
.
7 Januari 2013.
Seorang teman menariknya kuat dari luar ruang kerja saya
untuk masuk ke dalam.
Saya ingat betul saat itu sudah mendekati jam pulang kantor.
Saya sudah tidak ada kerjaan. Tentu saja saya sangat senang ketika sekali lagi
saya bisa bertemu dia. Saya bingung dengan perasaaan saya saat itu. Saya jauh
lebih pemalu dari yg saya sangka. Tapi ketika dia mulai berbicara, rasanya
semua kosong.
Tidak ada ordner di lemari, tidak ada asbak pak Agus di atas
meja, tidak ada dispenser di balik pintu, tidak ada teman satu ruang kerja,
tidak ada. Semua terasa menguap. Dia mengatakan banyak hal. Banyak sekali.
“Aku gak tau harus ngajarin kamu dari mana. Mungkin gini
aja, kamu bilang apa yg pengen kamu tau, aku akan ajarin kalau aku memang bisa”
Seluruh kata mengalir begitu deras dari bibir saya. Sungguh saya
tidak percaya. Saya mendadak begitu sangat cerewet saat itu. Saya haus saya
rasa. Tidak atau belum ada sebelumnya yg mampu menanggapi isi otak saya seperti
dia di tempat ini. Dia seperti angin. Walau pun lusa dia berkata “Kamu hanya
janji-janji surga”
Segera tak lama setelah obrolan singkat kami, dia keluar
kembali keruang kerjanya. Sebelumnya dia bilang, “Tunggu sebentar, aku ambil
laptop aku. Aku akan kasih liat kamu beberapa foto aku”
Dia kembali dengan laptopnya, menunjukan hasil kerjanya. Saya
kagum. Berkali-kali dia bertanya apa pendapat saya terhadap foto-foto dia. Saya
sungguh tidak sanggup berkata, saya suka seluruh fotonya saat itu. Dia seperti
orang yg ada di balik selaput otak saya. Dia seperti orang di balik foto-foto
yg saya lihat diinternet. Dia seperti orang yg saya tidak kenal, bahkan siapa
namanya, tapi ketika saya lihat hasil karyanya diinternet akan segera saya
simpan di komputer. Saya terharu, kagum dan luar biasa senang bisa bertemu
orang seperti dia.
Saat itu saya menunjukan beberapa gambar hasil coretan
tangan saya. Dia memuji, tentunya.
Tapi dia berbeda, caranya memuji, caranya mengoreksi,
caranya terpesona untuk hal yg menurut saya SANGAT BIASA ini menjadi luar biasa
buat dia. Saya rasa dulu dia hanya melebih-lebihkan saja. Sampai kemudian dia
berkata, “Aku gak terlalu mengerti tentang gambar, tapi aku bisa bantu kamu.
Aku bisa tanya ke teman aku yg ngerti apa yg kamu mau tau”.
Tapi semua itu tidak cukup.
Dia meletakkan begitu saja blackberry nya di samping saya.
Dan entah, mengapa saya bisa begini, saya tidak pernah segenit ini terhadap
lawan jenis. “Kalau ada yg mau aku tanya, bisa lewat bbm?”
“Oh tentu.” Sambutnya. “Pin kamu?”
Yup
Saya senang luar biasa.
Dan tau kah? Malamnya, dia mengirimi saya pesan.
Tidak berhenti mengirimi saya pesan. Melontarkan segudang
pertanyaan, yang saya balas dengan lusinan tanda tanya tiada henti. Sampai lewat
dari tengah malam.
Mungkin ini dilatarbelakangi pertanyaan dia diujung sore
itu,
“Foto itu harus banyak latihan”
“Aku gak tau mau foto apa lagi”
“Pasar terapung pernah?”
“Pernah tapi belum pernah foto ke sana. Gak ada temen yg mau
diajak kesana karena tempatnya biasa aja, bukan tempat untuk main.”
“Ajak pacar pasti mau. Kamu punya pacar kan?”
“Engga.”
“Bohong banget”
“Apaan sih, buat apa bohong?”
“Apaan sih, buat apa bohong?”
“Serius?”
Ujung kaki saya mulai mati rasa sampai ke perut.
Dasar laki-laki.