Minggu, 21 Juni 2015

Menu berbuka puasa

Resep Ayam Kecap

Bahan :
½ ekor ayam, potong menjadi beberapa bagian
3 sendok makan saus tomat
3 sendok makan saus tiram
3 lembar daun jeruk
2 batang serai, memarkan
1 sendok teh royco ayam
1 jeruk nipis
Air secukupnya
Kecap secukupnya
Gula Pasir secukupnya

Bumbu halus :
1 cm lengkuas
1 cm kunyit
1 cm jahe
1 cm kencur
3 bawang putih
8 bawang merah
5 cabe merah
Garam secukupnya

Cara :
1.  Cuci bersih ayam, lumuri ayam dengan perasan jeruk nipis & sedikit garam, diamkan 30menit.
2.  Tumis bumbu halus hingga wangi, tambahkan royco ayam.
3.  Masukan ayam, tambah air, aduk hingga bumbu merata & meresap kedalam lapisan daging. Butuh waktu 20 – 30menit, jika air berkurang tambahkan air sedikit agar tidak gosong. Jangan lupa untuk memasak dengan api sedang.
4.  Tambahkan daun jeruk, kecap, saus tomat, saus tiram & serai. Tambahkan sedikit air dan aduk kembali hingga kuah mengental & ayam berubah warna kecoklatan.
 .

Resep Capcay Jamur Sosis

Bahan :
½ Bunga Kol
1 ikat kecil Baby Sawi
3 lembar Sawi Putih
1 batang wortel
3 sosis sapi
3 jamur
½ bawang Bombay
5 bawang putih
3 bawang merah
1 sendok teh royco sapi
1 sendok makan tepung maizena, larutkan dalam ½ gelas air
Gula secukupnya
Garam secukupnya

Cara :
1.  Potong Bunga kol, Baby sawi, Sawi putih, Wortel, Sosis, Jamur & Bawang Bombay sesuai selera. Sisihkan.
2.  Haluskan Bawang merah, putih & garam. Lalu tumis hingga harum , tambahkan royco lalu masukan potongan bawang Bombay & sosis. Aduk sebentar, lalu masukan Wortel & bunga kol. Setelah cukup empuk masukan sayuran lainnya.
3.  Tambahkan gula & larutan tepung maizena, aduk hingga matang.

 .

Resep Buah Naga Vanila
 

Bahan untuk 2 gelas :
1 buah naga, potong sesuai selera
Nata de coco sesuai selera
Sirup Marjan Vanila
Jeruk nipis
Air Secukupnya

Cara :
1.  Susun buah naga dibawah gelas, tabor nata de coco diatasnya, tuang 1 sendok makan sirup marjan vanilla, letakkan 1 iris jeruk nipis, tambahkan air
2.  Sajikan dengan es batu lebih nikmat
 .




Jumat, 22 Mei 2015

Rendang


Halo
Setelah cukup lama meninggalkan blog akhirnya saya kembali.
Kali ini saya ingin sedikit membahas tentang apa saja yg sudah saya unggah di akun instagram saya. Salah satunya adalah tentang resep masakan. Untuk pertama kali di blog saya akan menuliskan cara membuat rendang. Resep ini saya peroleh dari Bunda Radja, Paulina Cecilia. Ibu rumah tangga berasal dari Jambi. Dan Resep ini diturunkan oleh ibunya yang berdarah sumatera.


Bahan :
1 kg daging tanpa urat potong ukuran ibu jari
4 butir kelapa (parut & campur  2gayung air, olah menjadi santan)
2 lembar daun kunyit (iris halus)
4 lembar daun salam
1 telunjuk kayu manis
4 butir cengkeh
3 lembar daun jeruk
Garam

Bumbu Halus :
2 ons cabe merah keriting
10 buah cabe rawit
2 ons bwg merah
1 bonggol bawang putih
2 ibu jari lengkuas
1 ibu jari jahe
2 batang serai


Cara :
1.    Santan (2gayung air) dimasak sampai keluar minyak. Pisahkan minyak & ampas.
Selagi menunggu santan berubah terpisah menjadi 2 bagian (minyak & ampas) :
2.    Tumis bumbu yg telah dihaluskan sampai harum, masukan daun kunyit, salam, daun jeruk, kayu manis, cengkeh, masukan daging ke tumisan
3.    Masak sampai agak kering. Jika, Santan belum berubah menjadi 2 bagian, tambahkan air terus saat memasak daging agar empuk.
4.    Setelah kering, masukan ampas santan (tanpa minyak)
5.    Tambahkan garam
6.    Masak hingga daging benar-benar empuk dan bumbu berubah warna menjadi kecoklatan.

Tips :
1.    Usahakan selalu memasak dengan api sedang, khusus ketika memasak daging, agar masak sempurna.
2.    Saat memasak santan membutuhkan waktu yg lama hingga minyak keluar & santan berubah menjadi 2 bagian, sehingga ada baiknya lakukan kegiatan lain seperti mengolah bumbu halus hingga menumis daging.
3.    Karena memasak rending membutuhka waktu yang cukup lama, ada baiknya memilih waktu di hari libur, sehingga kegiatan memasak bisa dilakukan dari pagi hingga sore.




Minggu, 31 Agustus 2014

One Day

Kalau saya bisa, saya ingin merekam seluruh senyuman. 

Entahlah, saya rasa setiap hari garis bibirnya berbeda, begitu juga dengan kerutan halus di sepanjang garis mata.

.

Akhir Desember 2012, pertama kali saya dengar namanya. Hanya nama panggilan yg saya tau dan mulai ingat sepanjang waktu. Tahun baru 2013, saya fikir saya bisa bertemu dia untuk pertama kali. Malam itu saya membawa kamera dan tas, lengkap. Saya rasa jika saya bertemu dia saat itu juga, saya bisa langsung dapat berkeluh kesah atau minimal membuka percakapan dengan apa yg saya bawa. Menunjukan apa yg saya “baru” saja bisa atau yg saya ingin tau.

Tapi dia tidak ada.

Beberapa hari kemudian dia lewat di hadapan kami. Kemeja lusuh dengan lengan digulung sampai siku, sepatu yg talinya terikat kencang tapi kakinya tidak dia masukan penuh, membuat tumit yg tertutup kaus kaki terlihat kotor, serta kamera 35mm (semoga ini tidak salah) tergantung bebas di leher.

Seorang teman memanggil dia, meminta untuk mengambil beberapa gambar kami di depan pintu keluar kantor.

Senyumnya. Saya tidak akan pernah lupa. “Oke, ya tahan. Oke semuanya senyum. Satu, dua.. tiga.”

Kamera segera turun menunjukan senyum cemerlangnya. Barusan dia bilang bahwa kami tidak akan langsung melihat hasilnya. Mungkin butuh 1 atau 2 bulan untuk dia kirim ke Jogja terlebih dahulu, dicuci disana. Kira-kira begitu yg dia sampaikan.

Dan untuk pertama kalinya, MUNGKIN, dia tau nama saya. Itu pun saya yakin tidak ada yg dia fikirkan sama sekali.

Dia lantas pergi. Pulang.

.

7 Januari 2013.

Seorang teman menariknya kuat dari luar ruang kerja saya untuk masuk ke dalam.

Saya ingat betul saat itu sudah mendekati jam pulang kantor. Saya sudah tidak ada kerjaan. Tentu saja saya sangat senang ketika sekali lagi saya bisa bertemu dia. Saya bingung dengan perasaaan saya saat itu. Saya jauh lebih pemalu dari yg saya sangka. Tapi ketika dia mulai berbicara, rasanya semua kosong.

Tidak ada ordner di lemari, tidak ada asbak pak Agus di atas meja, tidak ada dispenser di balik pintu, tidak ada teman satu ruang kerja, tidak ada. Semua terasa menguap. Dia mengatakan banyak hal. Banyak sekali.

“Aku gak tau harus ngajarin kamu dari mana. Mungkin gini aja, kamu bilang apa yg pengen kamu tau, aku akan ajarin kalau aku memang bisa”

Seluruh kata mengalir begitu deras dari bibir saya. Sungguh saya tidak percaya. Saya mendadak begitu sangat cerewet saat itu. Saya haus saya rasa. Tidak atau belum ada sebelumnya yg mampu menanggapi isi otak saya seperti dia di tempat ini. Dia seperti angin. Walau pun lusa dia berkata “Kamu hanya janji-janji surga”

Segera tak lama setelah obrolan singkat kami, dia keluar kembali keruang kerjanya. Sebelumnya dia bilang, “Tunggu sebentar, aku ambil laptop aku. Aku akan kasih liat kamu beberapa foto aku”

Dia kembali dengan laptopnya, menunjukan hasil kerjanya. Saya kagum. Berkali-kali dia bertanya apa pendapat saya terhadap foto-foto dia. Saya sungguh tidak sanggup berkata, saya suka seluruh fotonya saat itu. Dia seperti orang yg ada di balik selaput otak saya. Dia seperti orang di balik foto-foto yg saya lihat diinternet. Dia seperti orang yg saya tidak kenal, bahkan siapa namanya, tapi ketika saya lihat hasil karyanya diinternet akan segera saya simpan di komputer. Saya terharu, kagum dan luar biasa senang bisa bertemu orang seperti dia.

Saat itu saya menunjukan beberapa gambar hasil coretan tangan saya. Dia memuji, tentunya.

Tapi dia berbeda, caranya memuji, caranya mengoreksi, caranya terpesona untuk hal yg menurut saya SANGAT BIASA ini menjadi luar biasa buat dia. Saya rasa dulu dia hanya melebih-lebihkan saja. Sampai kemudian dia berkata, “Aku gak terlalu mengerti tentang gambar, tapi aku bisa bantu kamu. Aku bisa tanya ke teman aku yg ngerti apa yg kamu mau tau”.
Tapi semua itu tidak cukup.

Dia meletakkan begitu saja blackberry nya di samping saya. Dan entah, mengapa saya bisa begini, saya tidak pernah segenit ini terhadap lawan jenis. “Kalau ada yg mau aku tanya, bisa lewat bbm?”

“Oh tentu.” Sambutnya. “Pin kamu?”

Yup

Saya senang luar biasa.

Dan tau kah? Malamnya, dia mengirimi saya pesan.

Tidak berhenti mengirimi saya pesan. Melontarkan segudang pertanyaan, yang saya balas dengan lusinan tanda tanya tiada henti. Sampai lewat dari tengah malam.

Mungkin ini dilatarbelakangi pertanyaan dia diujung sore itu,

“Foto itu harus banyak latihan”
“Aku gak tau mau foto apa lagi”
“Pasar terapung pernah?”
“Pernah tapi belum pernah foto ke sana. Gak ada temen yg mau diajak kesana karena tempatnya biasa aja, bukan tempat untuk main.”
“Ajak pacar pasti mau. Kamu punya pacar kan?”
“Engga.”
“Bohong banget”
“Apaan sih, buat apa bohong?”
“Serius?”

Ujung kaki saya mulai mati rasa sampai ke perut.
Dasar laki-laki.